Tahun 1970-an hingga 1980-an merupakan masa-masa sulitnya bagi seorang ibu hamil mengharapkan pertolongan medis untuk melahirkan. Dimana pada saat itu belum terdapatnya Posyandu-posyandu serta bidan desa seperti sekarang ini.

Hal inilah yang membuat seorang bidan Sonti Maulina Napitupulu, satu-satunya bidan pemerintah pada masa tersebut cukup kewalahan memberikan pertolongan ke setiap kampung-kampung yang ada di Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara.

Sonti Maulina Napitupulu merupakan putri sulung dari 9 bersaudara dan putri seorang tukang jahit Sahala Napitupulu dan ibu boru Simorangkir, mengawali pekerjaannya di pulau Mentawai dan selanjutnya di Butar Siborong-borong. Kemudian pada tahun 1967 beliau aktif di RS HKBP Balige dan terakhir mulai tahun 1970 melayani hingga masa pensiunnya pada tahun 1994 di Sipahutar. Pendidikan formalnya lulusan Sekolah Kebidanan dari Sibolga. Sehari-harinya beliau menempati posnya di BKIA khusus menolong persalinan dan kesejahteraan ibu dan anak.

Pengorbanan beliau cukup kita acungi jempol, tanpa mengenal pamrih ataupun balas jasa ataupun penghargaan, beliau oleh karena kewajibannya siaga 24 jam apabila pertolongannya dibutuhkan. Walaupun itu harus berjalan kaki puluhan kilometer, ataupun dengan kenderaan dinas pada waktu itu sepeda angin. Beliau selalu didampingi suaminya tercinta  alm.T.H.Simatupang yang selalu memberi motivasi dan ketabahan dalam bertugas. Boleh dikatakan 75% anak-anak Sipahutar pada zaman tersebut merupakan pertolongan beliau melalui kuasa Tuhan hingga beroleh hidup.

Beliau juga mengkampanyekan pentingnya kesehatan dan melawan hambatan kultural berupa hidupnya mitos-mitos yang negatif di masyarakat, misalnya ibu hamil dilarang keluar rumah atau ibu-ibu yang baru melahirkan dilarang membawa anaknya keluar rumah sebelum anaknya berusia tiga bulan yang akhirnya imunisasi dasar untuk bayi jadi susah. Sebagai bidan beliau sudah mengenal betul problematik kesehatan ibu dan anak di daerah tersebut. Ia sadar akan perannya di daerah yang terpencil, bidan selain sebagai penyuluh, juga jadi panutan.

Di tahun 1982, beliau aktif mengkampanyekan program nasional “Keluarga Berencana (dua anak cukup)” dan juga melakukan pelatihan-pelatihan terhadap “Sibaso” (dukun beranak di setiap desa untuk memberikan pertolongan pertama terhadap ibu-ibu yang hendak melahirkan. Program pemerintah ini dilakukan sebab kurangnya tenaga kebidanan di daerah-daerah terpencil. Di kecamatan Sipahutar contohnya cuma satu bidan pemerintah dibantu mantri kesehatan dan bidan swasta (sukarelawan) yaitu boru Sinaga dan Parrade.

Berapa mendapat bayaran? Mengenai yang satu ini, beliau terkadang tak kuasa mengutarakannya. Beliau seringkali menolak bayaran dari warga yang tidak mampu. Apalagi pada zaman tersebut perekonomian cukup sulit. Pendapatan masyarakat cukup jauh dibawah rata-rata, kebanyakan masyarakat tergolong miskin atau tidak/kurang mampu. Kadang-kadang dibayar dengan setandan pisang atau buah jambu kelutut sudah cukup. Beliau cukup tabah dan selalu berkata “Dengan dapat menolong orang, saya sudah merasa senang, imbalan yang paling berharga adalah dari Tuhan”.

Penghargaan apa yang pantas diperoleh? Beliau tidak pernah mengharapkan penghargaan dari siapapun seperti layaknya pada saat ini banyaknya penghargaan terhadap bidan desa terpencil seperti “Srikandi Award”. Beliau cuma ingin menjadi bidan bertangan dingin dan cukup disenangi warga Sipahutar.

Wanita yang dilahirkan pada tanggal 29 September 1939 ini hampir genap berusia 71 tahun. Beliau pada saat ini digerogoti penyakit. Penyakitnya merupakan komplikasi ginjal, jantung, asam urat dan lain sebagainya yang tidak kunjung sembuh. Penulis yang merupakan putra beliau hanya mengharapkan dari para pembaca yang budiman, penghargaan yang paling tinggi yang patut kita berikan kepada beliau adalah “Doa kesembuhan” dan “Semoga  TUHAN memberkati” Amin. (Ferdinan Markus Simatupang,SH)